sinopsis-13-hours-secret-soldiers-of-benghazi-konflik-libya-1

Sinopsis 13 Hours Secret Soldiers of Benghazi, Konflik Libya

VIVA   –  Para pecinta movie akan diajak berfikir mengenai film yang digarap oleh  Michael Bay, sutradara kondang yg sudah menciptakan banyak film box office . Bay menggarap film thirteen Hours Secret Soldiers of Benghazi  oleh mendulang  kesuksesan  serta  meraup keuntungan sebesar US$69 juta.

Film ini mengangkat kisah nyata serangan Libya pada kedutaan besar Amerikat Serikat (AS) di natural, tepatnya di Benghazi. Benghazi merupakan lokasi  paling berbahaya yang telah dinobatkan pada tahun 2012.   Penyebabnya ditengarai karena lengsernya perdana menteri Muammar Khadafi yang sudah memerintah selama 42 tahun.

Seluruh konsulat dari seluruh negara menarik wakilnya karena tanda keamanan. Mereka melindungi dari serangan para militan. Amerika Serikat sendiri masih memiliki kantor diplomatik yang masih terbuka di kota.

Duta besar AS yang masih berada pada sana adalah Chris Stevens. Tuk strategi keamanan, sejauh satu million dari tempat itu terdapat pos CIA yang disebut The Annex.

The Annex dijaga beberapa pasukan elit yang disewa dari Global Respons Staff members (GRS) yang dipimpin oleh Tyrone Woods (James Badge Dale). Anggota pasukan  lain di antaranya Jack Da Silva (John Karinski), Mark Geist (Max Martini), Jon Tiegen, Kris Tanto Paronto, dan Benefit.

Selain itu Stevens juga dikawal oleh agen keamanan diplomatik seperti Scott Wickland, Dork Ubben, dan brigade martir yang disebut 17-Feb. Sementara itu, GRS meninjau lokasi untuk tempat perlindungan duta Stevens.

Mereka lalu memperingatkan risiko pengaturan keamanan minimal dan kemungkinan serangan besar mendadak di tengah kondisi yang labil.

Tak lama setelah itu, memiliki serangan dari Ansar Al-Sharia. Wickland yang sudah berjaga di sana menyelamatkan Stevens dan seorang ahli IT bernama Smith. Di Annex sendiri mereka takut membantu karena pertimbangan dampak pengeksposan Annex.

Serangan dari para militan pun tak dapat dibendung. Pasukan akhirnya menelepon bala bantuan. Akankah mereka berhasil?